Di Balik Suara Warga Melong: Jalan Rusak, Selokan Tersumbat, dan Harapan PJU
CIMAHI, RajindoNews.com – Di sebuah ruangan pertemuan sederhana di Kelurahan Melong, suara-suara wargalah yang mengisi hari: keluhan tentang jalan yang berlubang, selokan penuh sampah, selain kekurangan penerangan saat malam. Reses Masa Sidang III Tahun 2025 yang digelar anggota DPRD Komisi I, Ayi Kusmiati, S.Pd.I., menjadi momen warga Melong dan Cibeureum menumpahkan problem sehari-hari yang kerap mereka hadapi. Tokoh masyarakat, RT/RW, kader PKK, pemuda, dan perwakilan lembaga kemasyarakatan hadir, membawa daftar panjang aspirasi.
Siapa yang bicara? Mulai ibu-ibu kader PKK yang khawatir anak bermain di selokan tersumbat, hingga ketua RT yang menyampaikan bahwa akses warga terhambat saat hujan deras. Apa yang mereka minta? Perbaikan jalan setapak agar warga lansia dapat bergerak aman, normalisasi saluran air untuk mencegah banjir lokal, dan pemasangan titik PJU agar area sore dan malam tidak menjadi ruang gelap dan rawan bahaya.
Mengapa penting? Dampak terasa langsung: akses ke sekolah dan pasar terganggu saat genangan muncul; sampah yang menumpuk di selokan mempercepat banjir; minimnya PJU menurunkan rasa aman. Dalam perbincangan hangat dengan Ayi Kusmiati, muncul penjelasan bahwa cuaca ekstrem akhir-akhir ini memperparah genangan di wilayah Melong.
"Mungkin yang paling lagi happening ya hari ini kan memang cuaca ya, jadi kebanyakan Melong itu kan daerah banjir juga sih," ucapnya, memberi konteks pada keluhan warga, Sabtu (22/11/2025).
Bagaimana solusi? Ayi menegaskan bahwa pencegahan banjir telah dimasukkan dalam RPJMD Kota Cimahi, dengan rencana kerja yang siap dilaksanakan melalui koordinasi lintas dinas. Namun warga ingin lebih: jadwal kerja yang jelas, titik prioritas yang transparan, dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan agar solusi berkelanjutan.
Kapan harapan itu terwujud? Warga berharap realisasi bisa dalam jangka pendek hingga menengah mulai dari pembersihan saluran segera hingga penambahan PJU pada tahun anggaran berikutnya. Reses ini, bagi mereka, bukan sekadar seremonial; melainkan pintu pengaduan yang memberi harapan bahwa perubahan konkret dapat lahir dari suara-suara kecil di tingkat kelurahan. (Gultom)




Posting Komentar